Arca Batu

Saat beristirahat di tempat bernama Jatiwangi, Ki Tepus Rumput, tokoh sentral sejarah Kadipaten Onje, mendengar suara kokok ayam jantan dari arah tenggara. Dengan mendengar kokok ayam tersebut Ki Tepus Rumput menduga, ada manusia lain yang mendiami tempat itu. Ki Tepus Rumput mencari tempat asal suara kokok ayam, ternyata ada sebuah padepokan yang dihuni Ki Onje Bukut. Di sekeliling  padhepokan itu ditumbuhi banyak pohon burus. Ki Tepus Rumput juga ditemui sosok manusia bernama Ki Kantharaga. Dalam pertemuannya itu Ki Tepus Rumput disuruh bertapa di wetan gunung gede (Gunung Slamet) yang bernama bukit Tukung. Setelah memberikan wejangan dan perintah, Ki Kantharaga menghilang lalu berubah wujud menjadi arca. Arca dari batu dengan bercak putih tersebut berusia ratusan tahun dan dijadikan Benda Cagar Budaya.

Jojok Telu

Jojok Telu atau Tempuran Telu adalah tempat pertemuan tiga aliran sungai, yaitu Sungai Paku, Sungai Paingen, dan Sungai Tlahab. Diceritakan, tempat ini merupakan tempat pertemuan para wali sebelum membangun Masjid Raden Sayyid Kuning. Dalam perjalanannya, Jojok Telu ini kerap didatangi orang pada malam hari untuk melakukan ritual mandi mengharap berkah dan kemudahan dalam urusan.

Puspa Jaga

Puspa Jaga adalah salah satu dari empat prajurit Kerajaan Pajang yang diutus Raja Pajang Sultan Hadiwijaya (Mas Karebet) untuk menjadi pengawal (pendherek) salah satu selir tercantik raja, putri Adipati Menoreh. Sultan memberikan hadiah selir cantik yang sedang hamil kepada Ki Tepus Rumput yang telah berhasil memenangkan sayembara yaitu menemukan cincin Socaludira. Selain Puspa Jaga, ketiga pengawal Putri Menoreh ketika diboyong Ki Tepus Rumput ke Onje, yaitu Puspa Kantha, Puspa Raga, dan Puspa Dipa. Keempat prajurit Pajang itu menjadi pengawal sekaligus membantu urusan administrasi Kadipaten Onje hingga masa Raden Anyakrapati (Adipati Onje II). Makam Ki Puspa Jaga terdapat di depan Balai Desa Onje dan namanya diabadikan menjadi nama pendapa di kompleks balai desa yaitu Pendapa Puspa Jaga.

Masjid Raden Sayyid Kuning

Masjid yang menjadi salah satu bukti sejarah Kadipaten Onje ini merupakan kebanggaan warga Desa Onje dan warga Kabupaten Purbalingga pada umumnya. Konon, masjid Onje ini didirikan para wali. Pada masa Adipati Onje II, masjid ini dipugar dengan menggunakan kayu dari Jatiwangi sebagai saka guru. Sekitar tahun 1983, masjid yang sebelumnya dikenal sebagai Masjid Onje ini berganti nama Masjid Raden Sayyid Kuning. Nama tersebut diberikan oleh Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan yang masih keturunan Mbah Sayyid Kuning.

Singayudha

Singayudha salah satu cicit Adipati Onje II, cucu dari kakek bernama Wangsantaka, dan anak dari bapak bernama Dipayudha. Sebagai generasi IV Kadipaten Onje, Singayudha hidup di masa Perang Diponegoro. Ia merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang gagah berani. Bahkan, saat Kadipaten Onje hendak dikuasai penjajah Belanda, Singayudha pulang untuk memimpin penumpasan pasukan Belanda yang hendak menguasai tanah kelahirannya. Konon, dari cerita turun-temurun masyarakat Desa Onje, kuda yang ditunggangi Singayudha mampu melompat hingga setinggi pohon bambu. Makam Singayudha terdapat di RT 01 RW 01.