Grebeg Onje 2017

Koordinator Pengelola Grebeg Onje Yudhia Patriana mengatakan, menggelar Grebeg Onje untuk mengingatkan kita, warga Purbalingga pada khususnya, bahwa
Onje pernah menjadi sebuah kadipaten yang melahirkan para pemimpin Kabupaten Purbalingga. “Selain, sebuah pesta kegembiraan warga Desa Onje dan Purbalingga pada umumnya dalam menyambut datangnya bulan Ramadan,” ungkapnya.

Gelaran Grebeg Onje, diawali pragrebeg dengan kegiatan bersih desa sebagai bentuk persiapan warga pada Selasa, 16 Mei 2017, dilanjutkan Sarasehan Sejarah Onje di Pendopo Dipokusumo Purbalingga pada malam harinya.

Beragam agenda yang digelar berupa ritual, pameran, dan hiburan rakyat. Pembukaan pameran tosan aji, UMKM, napak tilas mengawali rangkaian kegiatan Grebeg Onje pada Rabu pagi, 17 Mei 2017.

Hiburan rakyat digelar dari pagi hingga malam hari. Di lapangan Desa Onje, pertunjukan kesenian Ebeg ada sejak pagi hingga sore. Sementara musik akustis ditampilkan di panggung seni tengah kali di bawah Brug Putih, sebuah destinasi wisata baru di Desa Onje. Malam harinya, di lapangan menghadirkan suasana tahun 1980-an, warga Desa Onje dan sekitarnya disuguhi tontonan Layar Tanjleb.

Pada Kamis pagi, 18 Mei 2017, dua ritual sekaligus, yaitu ritual pengambilan air belik pitu dan ritual jodang digelar. Ritual belik pitu sebagai penanda ketersambungan kekuasaan di Purbalingga. Sementara Ritual Jodang dengan media Jodang atau dipan yang diisi nasi, lauk, hasil bumi, dan jajan pasar sebagai wujud rasa syukur.

Kemudian jodang-jodang tersebut dibawa ke Pendapa Puspa Jaga Balai Desa Onje untuk diserahkan kepada Bupati Purbalingga termasuk air dari Belik Pitu untuk dibagikan/dinikmati warga yang menyaksikan di lapangan. Berbagai atraksi kesenian tradisi turut menyemarakan dari pagi hingga sore.

Malam harinya, digelar ritual Penggelan yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Dengan penerangan obor diiringi tarian Begalan dan Shalawatan, arakan Penggel berjalan dari Pendapa Puspa Jaga Desa Onje menuju Masjid Raden Sayyid Kuning. Kemudian rombongan yang terdiri dari pejabat, tokoh agama, tokoh adat, dan warga melakukan siraman suci di sungai jojok telu. Ritual diakhiri mbabar penggel ngalap berkah.

Di hari terakhir, Jumat, 19 Mei 2017, sebelum penutupan diadakan napak tilas makam, situs, dan belik bagi pelajar dan umum untuk mengetahui jejak sejarah Kadipaten Onje.a


Bagikan ke Teman